Jodoh? Biar Tuhan yang Mengatur
Terdiam membisu diriku saat dia
yang aku kagumi meliht ke arahku, rasanya tak percaya wajahnya yang dingin itu
bisa melirik diriku yang polos, saat dia melihat ke arah ku dengan pandangan
seperti itu aku bertanya pada diriku sendiri apa yang sedang ia cari, apakah
dia memerhatiakn diriku atau hanya kebetulan sesaat, moment itu tak berlangsung
lama moment itu buyar saat pundaku ditepuk oleh temen sebangku seraya
mengajukan pertanyaan “ada PR gak hari ini din?” Tanya mila teman sebangkuku “oh
enggak” jawabku agak bingung “oh iya dina besok loe ada acara?” tanyanya
kembali padaku, “gak ada sih, emangnya kenapa” tanyaku dengan polos “besok ikut
aku aja yuk, kita hangout di café depan, ikut ya, plis..” ajaknya penuh harap “emm..
yaudah deh sekali-kali” jawabku “nah gitu dong, biyar ga terlalu polos, loe ini
kudet bgt sih” candanya seiring tertawa “ah apa banget sih” jawabku tak trima
sambil ikut tertawa “eh emang bener geh” tambahnya sambil mengejekku, aku
memang salah seorang yang polos dan tidak neko-neko, bahkan orang di sekitarku
menganggap diriku pendiam karena aku memang jarang bicara, karna menurutku lebih baik diam
karna di balik diam itu sendiri terdapat keanggunan seorang wanita dan sudah
menjadi kodratnya wanita untuk mejaga lisannya di hadapn orang banyak apa lagi
di hadapan lelaki, banyak orang juga menyebut dirikku wanita yang alim, aku
tidak mengerti dengan sebutan itu, mungkin karna aku rajin beribadah, aku geli sendiri
mendengarnya karna ibadah adalah
kewajiban semua ingsang yang beriman jadi kenapa mereka menganggap ini
istimewa bukankah itu kewajiban? Dan harus di laksanakan setiap orang, dan yang
paling aku heran adalah saat mereka berkata “kok kamu belum pernah pacaran sih?”
aku hanya geli tertawa, pacaran? Itu bukan hal yang di ajarkan di agama saya,
mungkn terdengar sok alim atau apa tapi saya tidak setuju dengan konsep
berpikir orang-orang yang berpacaran hanya demi nafsu sesaat, apa lagi yang
hanaya mengejar setatus, itu bukan saya.
Hari itu aku dan mila sudah berada
di depan café yang berada tak jauh dari
sekolah kami, suasananya cukup ramai, itu hal yang wajar, dan ada suatu hal
yang mengalihkan pandanganku,yaitu seorang pemuda yang berda di dalam café “dina
ayo masuk!” panggilnya sambil melihat ke arah ku yang masih bingung “iya,”
jawabku sambil berlari. “wah rame banget, gimana nih ga ada tempat duduk” keluh
mila “yaudah kita balik aja yuk” pintaku “jangan gitu dong” jawabnya memohon, “Mila!”
panggil seseorang yang berada di pojokan café ku lihat ada dua orang pria yang
sedang duduk sambil minum segelas minuman, “hey! doni” jawab mila “sini gabung aja” pinta doni
sambil melambaikan tanganya, “iya” jawab mila, doni adalah kakak kelas dan
kenalan mila, ya… mila adalah anak yang gaul dan memiliki banyak teman,
tanganku pun digandengnya sambil sedikit menarik, dan yang membuat diriku
tersentak dan kaku adalah aku menemukan pria yang dari tadi aku perhatikan dn dia
adalah seseorang yang aku kagumi dan dia tepat berada di depan ku, rasanya aku
ingin teriak saja… aaa… jantungku seperti ingin copot dan nafasku tidak
beraturan.” Sini duduk bareng kita aja” pinta doni kepada kami “ iya kak” jawab
mila seraya menarik bangku “ayo din duduk juga” pinta pria yang aku kagumi itu “nama
kamu dina kan?” tambahnya, “dia tau namaku! Oh tuhan mimpi apa aku semalam?”
bisikku dalam hati sambil berkata “Iya kak” “nama saya oji saya sekelas dengan
doni” sebutnya sambil memeperkenalkan diri “iya kak” hanya itu jawaban paling
maksimal yang bisa aku berikan, “udah pada pesen makanan?” Tanya doni ramah
kepada kami “belum, ini mau mesen” jawab mila sambil berdiri dan bertanya ”mau makan apa loe din” “samain aja” jawab ku singkat jujur saja aku sedikit
gemetar, mila berjalan menuju bar “guy’s gue pergi dulu ya ke kamar kecil ada
acara bentar nih” canda doni sambil pergi meninggalkan kami berdua ya berdua, hatiku
semakin tak terkontrol raut wajahku mulai membisu kali ini aku benar-benar
ingin teriak, suasana menjadi hening dan kami tidak sengaja saling pandang aku
memang kagum pada dirinya dan aku selalu memperhaikannya setiap bertemu
denganya, iya tapi tidak pernah sedekat ini, kulihat matanya sayu bola matanya
berbinar terkena sorotan cahaya rahangnya tegas membentuk garis yang kuat belum
lagi hidungnya yang mancung dengan bibir merha muda yang maskulin menunjukan
bahwa ia tidak merokok, kulihat gaya rambutnya yang sangat interest bagian tepi
kanan dan kirinya di buat tipis dan sisanya ia sisir ke belakang, sungguh
penampilan yang menarik tubuhnya yang jangkun membuat diriku agak sedikit
mendengak ke atas saat melihatnya belum lagi pundaknya yang datar membuat dia
tampil sangat menawan, “kenapa” tanyanya padaku”apanya yang kenapa” jawabku
terbatah batah “bengon aja dari tadi ada yang dipikirin ya?” Tanyanya sambil
melontarkan senyum manis kehadapanku, “sungguh menwan” pikirku “gak papa kok” jawabku,
aku mulai gelisah dan tak nyaman lalu aku berdiri dan menoleh kearah bar “mau
ke mana?” tanyanya “mau nyusul mila” jawabku sambil menoleh ke arahnya “bentar
lagi juga dateng, tuh liat dia dateng” sambil mnenujuk mila, akhirnya datang juga
hampir aja aku mati karna kagum pikirku seraya tertawa geli. Kami melanjutkn
obrolan dan sampi lah di penghujung acara “balik yuk udah sore nih” ajak ku
sambil melihat jam di handphone “iya yuk” balas mila “kita juga mau balik nih”
pinta doni “yaudah gue bayar dulu ya” mila jalan duluan meningalkan aku yang
menikuti dibalkangnya lalu oji menghampiriku dan berkata ”boleh minta pin BB
kamu gak?” Tanyanya penuh harap “boleh”
jawabku sambil memberikannya, yang ada dalam pikiranku sekarang adalah untuk
apa dia minta pinku oh tuhan aku jadi melayang.
Setelah kejadian di café oji sering
berhubungan denganku melalui BBM hal yang sangat menarik , dia selalu memulai topik
pembicaraan, dari mengomentari DPku atau hanya Tanya kabar semata, dia
menunjukan sikap perhatian yang tak biasa, aku belum tau apakah itu suatu tanda
persahabtan darinya atau, aku jug atidak tau atau apa, yang tepenting hal itu
membuat hari-hariku menjadi tamabh indah. Tapi yang membuat aku bingung adalah kenapa
rasa kagumku saat ini berubah, aku tidak tau kenapa rasa kagum ku dulu sekarang
menjadi rasaa nyaman dan selalu ingin berada didekatnya aku menjadi tambah
bingung oh tuhan ada apa ini apa ini yang mereka sebut cinta? Jujur saja ini
sangat rumit. Dan setiap diriku bertemu denganya selalu saja ia memandangiku
dengan pandangan yang penuh arti dan
penuh harap aku juga selalu memandanginya, seperti eye to eye, ini hal gila
yang sangat menarik.
Hari ini grimis dan suasana mendung
tanpa hangatnya sinar matahari, aku berda dalam kelas dengan beberap temanku,
jam sekolah memang telah uasi tapi karena banyak tugas yang di berikan dari
guru kami memutuskan untuk mengerjakannya bersama, tugas telah usai kami
memutuskan untuk pulang, kulihat ada beberapa orang di lapangan sekolah yang
kebetulan jalan kami untuk pulang, lalu kulihat ada seseorang yang sangat ku
kenal sedang membawa bunga dan gitar, ya
itu oji aku kaget bukan kepalang dan dia mulai mendekati ku, sedikit demi
sedikit langkahnya mulai mendekat dan sampainya dia di depanku , sekarang aku
benar-benar ingin teriak dan pingsan, dia maju beberapa langkah dan mulai
memainkan gitarnya lalu ia bernyanyi “girl your heart girl your smile is so different
from another I say you the only that…..” suara gitarnya yang nyaring dan
suaranya yang indah membuat hati ini menjadi luluh, tuhan ini sempurna, lalu
dia muali maju beberapa langkah dan membawa bunga yang tadi di pegangnya, dan
saat dia berada tepat di depanku ia mulai berlutut sambil mengacungkan bunga di
hadapanku lalu ia mulai berkata “entah ini sebuah kebetulan atau memang sudah
menjadi suartan, aku tidak tau apakah benar kisah cinta antara rome Juliet yang
selalu penuh perjuangan, tapi terlepas dari itu sekarang adalah giliranku untuk
mempejuangkan cintaku, ya! cintaku kepada ciptaan tuhan yang sangat sempurna dengan segala keindahan dari dalam
dirinya, aku sempat berpikir oh tuhan apakah pilihanku benar? Karna aku memilih
wanita yang sangat sempurna yang bahkan untuk berhayal mendapatkanya pun terasa
tak mungkin, tapi, dirimu sudah menjadi opsesiku sejak dulu, jadi, maukah kamu
menjadi pelengkap hidupku yang masih hampa ini?” kata-katanay sungguh
mengguncangkan hatiku, lalu aku bernafas sejenak dan mulai berfikir untuk
mengambil keputusan, lalu aku ikut berlutut dihadapanya dengan penuh usaha aku
membranikan diri untuk menatap matanya, sambil duduk bersipu aku berkata “meras
dekat dengan kakak memang membuat diriku nyaman, tapi, apakah semua ini benar,
jujur ku akui aku memendam rasa kagum kepada kakak, tap apakah cinta harus
memiliki?” jawabku yang membaut air mataku jatuh di pipiku membasahi wajah
polosku yang sangat tegang, “jadi jwabanya?” Tanya oji dengan perasaan penuh
harap “maaf kak aku tidak bisa” jawabku singkat yang membuatnya tersentak, “tapi
kenapa” tanyanya lagi “manusia dilahirkan saling berpasangan, dan semua
pasangan itu sudah di atur oleh tuhan, dan yang aku mau adalah biarkan tuhan
yang mengatur jodohku, dan aku tidak mau diriku yang mengatur hal tersebut
hanya karna kehendak diriku, aku tidak ingin menjadi hamba-Nya yang egois biar
semua mengalir apa adanya dan jika kita ditakdirkan berjodoh aku yakin suatu
saat kita akan dipersatukan lagi dan biarlah tuhan yang mengaturnya” dan
kata-kata itu membuat diriku bangkit dan mulai beranjak, lalu ditariknya
tanganku dan ia berkata “kalau itu keputusan yang paling membuatmu nyaman
baiklah, aku akan menghargainya, tapi hal yang harus kamu tau adalah aku akan
tetap mencintaimu sampai kapanpun” sungguh menyentuh “jngan begitu, aku yakin
kakak pasti akan mendapat yang lebih baik dari aku, maaf karna aku terlalu
bodoh dalam urusan cinta” kataku sambil berlari meninggalkanya. Menurutku itu
keputusan yang bijak, yah mungkin aku menyi-nyiakan kesempatan tapi itu adalah
pilihaan yang paling baik bagiku,
Setelah hari itu aku tidak pernah
bertemu lagi dengannya, ada yang bilang oji telah pinadah sekolah karna
mengikuti orang tuanya, tapi walau begitu aku jadi merasa bersalah. Tapi aku
yakin kalau dia adalah jodohku pasti tuhan akan memberikan jalan untuk membuat
kita bersama.
